Senin, 23 April 2012

MENGUAK RAHASIA DIBALIK IP SEMPURNA


Final Test perdana untuk mahasiswa angkatan 2011 telah selesai dilaksanakan. Mahasiswa – mahasiswa Fakultas Ekonomi UNLAM dengan harap menunggu nilai – nilai yang diumumkan di papan mading. Siapa yang tidak ingin menjadi yang terdepan, tentu dengan nilai yang memuaskan pula. Beberapa dari mereka mengeluh dengan nilai yang diraih, namun tidak seperti dua mahasiswi Akuntansi 2011 ini. Astia Putriana dan Wia Rizqi Amalia, ke dua perempuan ini berhasil menyabet nilai sempurna dengan IP 4. Keduanya dengan membanggakan memborong nilai A dari 7 mata kuliah yang diambil.
“Alhamdulillah seperti mimpi” ucap Wia kepada kru jurnal kampus. “Tidak terbayang mendapat IP sempurna, malah banyak ngebayangin hal yang buruk dengan nilai” tambahnya. Keduannya mengatakan tidak ada kiat – kiat khusus dalam meraih nilai sempurna, belajar dengan giat itulah kuncinya. “Lebih kebelajar kelompok , santai tapi serius dan paham. Satu lagi , jangan sungkan nanya hal yg tidak dimengerti ke dosen, meskipun diluar perkuliahan”, jelas Astia dengan mantap. Senada dengan Astia, Wia mengungkapkan bahwa keoptimisan dan belajar merupakan kunci kesuksesannya.
Menjawab pertanyaan nakal dari kru jurnal kampus mengenai contek – menyontek, Astia langsung menyanggah “Tidak ada  sama sekali terpikir untuk hal yang curang, berusaha sendiri menjawab meskipun ada yang tidak bisa, lebih penting kejujuran” ungkapnya. Sebaliknya dengan Wia, mahasiswi yang dikenal ramah ini dengan jujur mengatakan bahwa dia sempat terpikir untuk  membuat contekan kecil untuk final tapi niat itu urung dia lakukan melihat materi ajaran yang terlalu banyak.
Keduanya berharap bisa mempertahankan IP yang telah diraih untuk semester kedepannya. Namun kata Wia sebenarnya IP tinggi bukanlah hal yang menjamin untuk masa depan, karena didunia kerja, perusahaan/institusi tidak terlalu memperhatikan ke nilai namun lebih kepada prospek kinerja. Berlawanan dengan Wia, Astia lebih berpendapat bahwa IPK tinggi lebih berpengaruh. “Iya pasti mempengaruhi. Karena banyak perusahaan yang menyaratkan IP yang tinggi untuk mendapatkan pekerjaan. Semakin tinggi IP semakin besar kesempatan kita mendapatkan pekerjaan yang kita hendaki. Biasanya kan sebelum diwisuda byk perusahaan yang melist dahulu mahasiswa mana yg lulus dengan IP yang memuaskan, mereka akan menghubunginya untuk ditarik bekerja di perusahaannya” (Yeni Fitria_LPM JK FE Unlam)

Dosen FE Unlam Terapkan Pengaplikasian Pengantar Bisnis.


Ruang 12 FE Unlam terlihat semarak dengan warna kuning almameter yang dikenakan mahasiswa S1 Akuntansi angkatan 2011, Jum’at (30/9). Pengantar Bisnis di kelas C terlihat berbeda, mahasiswa terlihat atraktif dengan pembelajaran yang dipandu oleh Bp. Abdurrahman Sadikin, SE, MM. Ini merupakan pertemuan kali ke2 mereka. Memang mahasiswa yang mengikuti kelas beliau diharuskan mengenakan almameter Unlam, tapi ini malah menjadi ciri khas tersendiri dari mata kuliah lain. “Saya tidak ingin almameter yang menjadi kebanggaan universitas kita di pakai cuman saat event-event tertentu” jelas dosen yang juga mengajar di kelas manajemen tersebut.
Dosen yang senang mengenakan kemeja putih ini juga menetapkan beberapa kesepakatan di kelas. Beliau hanya mentolerir setiap keterlambatan 15 menit selain itu mahasiswa juga diwajibkan untuk menginvestasikan uang setiap minggu dalam bentuk tabungan. Beliau ingin menanamkan benih motivasi bisnis untuk semua mahasiswa didikannya “Memulai bisnis itu bukan tanpa modal, mulai dengan investasi 10rb setiap minggu. Modal seminimal mungkin kita bisa go Nasional!!”  ujar beliau dengan mantap. Sehabis Final test mereka berencana ingin study tour ke malang-lombok. Pa Sadikin menambahkan “jangan jadi penghayal saja, ayo dong kita bangkit” ajak beliau memicu semangat mahasiswa baru.
Dosen lulusan unlam ini memang tak pernah habis cerita mengenai pengalaman bisnisnya. Beliau adalah dosen yang tak hanya pintar dari sudut teori tapi juga pengaplikasian secara real.
Dalam suatu pembicaraan, salah seorang mahasiswa mengutarakan pendapatnya mengenai penciptaan ide bisnis “dari mata kita bisa menciptakan peluang bisnis” kata Yasin. “Saya bisa menghasilkan sebuah motor dari usaha di pasar wadai, padahal saya tak punya lapak apalagi modal. Saya hanya jeli melihat suatu yang tak kasat di pandangan penjual lain. Semua lapak menjajakan makanan, dan mereka memerlukan kantung plastik dan kertas pembungkus. Kemudian saya membuat perjanjian kerja sama dengan pedagang kantung plastik di pasar 5, dan dalam seminggu 1 buah motor pun bisa menjadi buah kesuksesan kerja saya”, jelas beliau kepada mahasiswa.
Diakhir pertemuan, beliau berharap agar mahasiswa juga bisa berbisnis, setidaknya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk sedikit mengurangi beban orang tua. (Yeni Fitria_LPM JK FE Unlam)

Radio Sebagai Media Imajinasi


“Sekali di udara tetap di udara” ujar Pak Sukma dengan lantang kepada peserta Diklat Jurnalistik, Sabtu (7/10). Jurnalis siaran radio merupakan garis besar pembahasan di agenda pertemuan diklat kali itu. Bapak yang berprofesi sebagai Manager operasional Nirwana Group ini berhasil menarik perhatian barisan mahasiswa baru dengan celotehan beliau.
Seorang jurnalistik tentu identik dengan profesi si pemburu berita, padahal ada banyak profesi dari bagian jurnalis, salah satunya seorang penyiar. Penyiar ibarat penyanyi yang mengalunkan lirik lagu, sedangkan penyiar adalah pembaca yang menyuarakan tulisan. Sebenarnya penyiar hanya lah pembaca, namun bukan pembaca biasa. Pembaca yang harus mampu mengekspresikan mimik suaranya, tidak hanya terpatok pada naskah semata.
Bukan cuman bakat yang diperlukan untuk menjadi seorang broad cash, tapi juga minat. “Tidak semua penyiar mampu menjadi pembaca informasi, apalagi penyiar yang tak punya minat” ujar Pak Sukma.
Banyak ilmu yang dituangkan oleh Pak Sukma ini, pemaparan dari segi intonasi, kemampuan membaca, keterampilan penyiar,wawasan dan penguasaan yang di perlukan untuk menjadi seorang jurnalistik di bidang radio.
Penyiar haruslah menjadikan media siarnya yaitu radio menjadi media imajinasi. “Radio adalah Theater Offline” kiasnya. Pak  Sukma menambahkan bahwa radio bukanlah media keluarga melainkan media personal, “Radio itu komunikasi personal, jadi sasaran siar kita adalah semua orang. Namun juga harus memperhatikan bahasa dari tutur kata, gunakan bahasa rakyat, kita harus membumi agar terkesan dekat dengan pendengar kita”. Penyiar identik dengan kiasan “Wajah menipu suara merayu” selanya di tengah penjelasan.
Pertemuan kali itu di tutup dengan canda dari Pak Sukma yang memberitahukan cara berhitung orang Banjarmasin “Satu batu....Sembilan bulan sepuluh waluh” semua mahasiswa sentak tertawa dibuatnya. (Yeni Fitria_LPM JK FE Unlam)